etika profesi

Posted: April 5, 2011 in Uncategorized

Pengertian Etika
Ada dua pengertian etika :
1. Etika berasal dari kata Yunani : ethos, dalam bentuk jamaknya ta etha, berarti ‘adat istiadat’ atau ‘kebiasaan’
Artinya, etika berkaitan dengan nilai-nilai, tata cara hidup yang baik, aturan hidup yang baik, dan segala kebiasaan yang dianut dan diwariskan dari satu orang ke oprang lain, dari satu generasi ke generasi lainnya. Kebiasaan ini terungkap melalui perilaku berpola yang terus berulang sebagai sebuah kebiasaan.

2. Etika mempunyai pengertian yang jauh lebih luas, etika dalam pengertian ini dimengerti sebagai filsafat moral, atau ilmu yang membahas dan mengkaji nilai dan norma yang diberikan oleh moralitas dan etika dalam pengertian pertama.
Etika dalam pengertian ini lebih normative dan karena itu lebih mengikat setiap pribadi manusia.
Etika dirumuskan sebagai refleksi kritis dan rasional mengenai (a) nilai dan norma yang menyangkut bagaimana manusia harus hidup baik sebagai manusia; dan (b) masalah-masalah kehidupan manusia dengan mendasarkan diri pada nilai- dan norma moral yang umum diterima.

Dalam Bahasa Imanuel Kant,
Etika berusaha menggugah kesadaran manusiaUntuk bertrindak secara otonom,
bukan secara heteronom.
Etika membantu manusia bertindak bebas tapi Dapat dipertanggungjawabkan

K. Bertens membedakan antara etika sebagai praksis dan etika sebagai refleksi.

Etika Sebagai Fraksis:
nilai-nilai dan norma-norma moral sejauh dipraktekan atau justru tidak dipraktekan walaupun seharusnya dipraktekan.
Apa yang dilakukan sejauh sesuai atau tidak sesuai dengan nilai dan norma moral

Etika Sebagai Refleksi:
merupakan pemikiran moral
sebagi refleksi kita berpikir tentang apa yang dilakukan dan khususnya tentang apa yang harus dilakukan atau tidak boleh dilakukan.
Menyoroti dan menilai baik buruknya perilaku orang.

Etika adalah cabang filsafat yang mempelajari baik buruknya perilaku manusia. Etika dalam arti ini sering disebut “filsafat praktis”.

TIGA NORMA UMUM
1. Norma Sopan santun
disebut juga norma etiket, adalah norma yang mengatur pola perilaku dan sikap lahiriah manusia. C: sikap bertamu, makan, minum, duduk, berpakaian, dll. Norma ini tidak menentukan baik buruknya seseorang sebagai manusia, karena hanya menyangkut sikap dan perilaku lahiriah.

2. Norma Hukum
adalah norma yang dituntut keberlakuannya secara tegas oleh masyarakat karena dianggap perlu dan niscaya demi keselamatan dan kesejahteraan manusia dalam kehidupan bermasyarakat. Norma ini lebih tegas dan pasti, karena ditunjang dan dijamin oleh hukuman atau sangsi bagi pelanggarnya.

3. Norma Moral
yaitu aturan mengenai sikap dan perilaku manusia sebagai manusia. Norma ini menyangkut aturan tentang baik buruknya, adil tidaknya tindakan dan perilaku manusia sejauh ia dilihat sebagai manusia

DUA TEORI ETIKA

1. Etika Deontologi
Berasal dari kata Yunani deon, artinya kewajiban.
Menekankan kewajiban manusia untuk bertindak secara baik.
Suatu tindakan itu baik bukan dinilai dan dibenarkan berdasarkan akibat atau tujuan baik dari tindakan itu, melainkan berdasarkan tindakan itu sendiri sebagai baik pada dirinya sendiri.

Contoh : suatu tindakan bisnis akan dinilai baik oleh etika deontologi bukan karena tindakan itu mendatangkan akibat baik bagi pelakunya, melainkan karena tindakan itu sejalan dengan kewajiban si pelaku, misalnya memberikan pelayanan yang baik kepada konsumen.
Atas dasar itu, etika deontologi sangat menekankan motivasi, kemauan baik dan watak yang kuat dari pelaku.

Imanuel Kant : “kemauan baik harus dinilai baik pada dirinya sendiri terlepas dari apapun juga
Kant : Tindakan yang baik adl tindakan yang tidak saja sesuai dengan kewajiban melainkan juga yang dijalankan demi kewajiban.

Etika Teleologi
Mengukur baik buruknya suatu tindakan berdasarkan tujuan yang mau dicapai dengan tindakan itu, atau berdasarkan akibat yang ditimbulkannya.
Suatu tindakan dinilai baik kalau bertujuan mencapai sesuatu yang baik, atau akibat yang ditimbulkannya baik dan berguna.

CONTOH: mencuri dinilai baik jika tujuan dari mencuri itu baik.
Etika teleology lebih situasional, karena tujuan dan akibat suatu tindakan bisa sangat tergantung pada situasi khusus tertentu.
Setiap norma dan kewajiban moral tidak bisa berlaku begitu saja dalam setiap situasi sebagaimana dimaksudkan Kant.
Persoalan yang muncul: bagaimana menilai tujuan atau akibat baik dari suatu tindakan. Tujuan atau akibat itu untuk siapa? Apakah tujuan itu baik hanya karena baik untuk saya atau baik untuk banyak orang?

Dua Kesulitan Teori Deontologi Teleologis
Bagaimana bila seseorang dihadapkan pada dua perintah atau kewajiban moral yang sama, tetapi keduanya tidak bisa dilaksanakan sekaligus, bahkan keduanya saling meniadakan.

1. WD. Ross mengajukan prinsip Prima Facie, artinya kita dituntut untuk menemukan “kewajiban terbesar” dalam situasi yang ada dengan menemukan “keseimbangan terbesar” dari hal yang baik atas hal yang buruk.
WD Ross membedakan kewajiban prima facie dengan kewajiban actual, dimana kewajiban yang selalu harus dilaksanakan kecuali kalau dalam situasi khusus tertentu bertentangan dengan atau dikalahkan oleh suatu kewajiban yang sama atau yang lebih kuat.

2. John Stuart Mill, seorang penganut deontologi, bahwa sesungguhnya tidak bisa mengelakkan akibat dari suatu tindakan untuk menentukan apakah tindakan itu baik atau buruk. Dan memang sebenarnya Kant tidak memaksa kita untuk mengabaikan akibat dari suatu tindakan, penekanannya bahwa kita menghargai tindakan tertentu sebagai bermoral karena nilai tindakan itu, dan tidak terlalu mudah terjebak dalam “tujuan menghalalkan segala cara”

Dua Aliran Etika Teleologi
Egoisme Etis
– Tindakan pada diri seseorang pada dasarnya bertujuan untuk mengejar kepentingan pribadi dan memajukan dirinya sendiri.
– Satu-satunya tujuan tindakan moral setiap orang adalah mengejar kepentingan pribadi dalam memajukan dirinya.
– Menjadi persoalan serius ketika cenderung menjadi hedonistis, yaitu kebahagiaan dan kepentingan pribadi dan menghindari yang tdk mengenakan. Bahkan bersenang
– senang di atas penderitaan orang lain.

Dua macam Egoisme

Egoisme etis : Satu-satunya tolok ukur mengenai baik buruknya suatu tindakan seseorang adalah kewajiban untuk mengusahakan kebahagiaan dan kepentingannya di atas kebahagiaan dan kepentingan orang lain. Egoisme etis cenderung menjadia Hedonistis, artinya menekankan kepentingan dan kebahagiaan pribadi berdasarkan hal yang menyenangkan dan mengenakan sedangkan hal yang tidak mengenakan harus dihindari.

Egoisme Psikologis: pandangan bahwa semua orang selalu dimotivasi oleh tindakan, demi kepentingan dirinya belaka. Disebut psikologis karena terutama mengungkapkan bahwa motivasi satu-satunya dari manusia dalam melakukan tindakan apa saja adalah untuk mengejar kepentingannya sendiri. Bahkan dengan sinis egoisme etis menyatakan “omong kosong jika manusia punya motivasi lain yang luhur selain mencari kepentingan pribadi.”

2. Etika Utilitarianisme

Menilai baik buruknya suatu tindakan berdasarkan tujuan dan akibat dari tindakan itu bagi sebanyak mungkin orang.

Disebut juga universalisme etis, universalisme karena menekankan akibat baik yang berguna bagi sebanyak mungkin orang; etis karena menekankan akibat yang baik.Prinsip kegunaan atau “prinsip kebahagiaan terbesar”

Suatu trindakan dianggap benar kalau bermaksud mengusahakan kebahagiaan atau menghindari hal yang menyakitkan atau tidak mengenakan.

Orang punya keinginan dasar untuk bersatu dan hidup harmonis dengan sesame manusia.

Dua hal yang sangat positif dari etika utilitarianisme
Rasionalitasnya
Universalitasnya

RELATIVISME ETIS
Berusaha menunjukkan kenyataan bahwa norma-norma moral yang berlaku dalam berbagai kebudayaan dan masyarakat tidak sama atau berbeda satu dengan yang lainnya.
Baik buruknya suatu tindakan berbeda antara tempat yang satu dengan tempat yang lainnya, dan bahwa tidak ada tolok ukur moral yang bersifat absolute dan universal bagi semua orang dimana saja dan kapan saja.
Baik buruknya suatu tindakan tergantung pada keyakinan pribadi dan budaya tersebut.

===================================

ETIKA PROFESI
Profesi : pekerjaan yang dilakukan sebagai kegiatan pokok untuk menghasilkan nafkah hidup dan mengandalkan keahlian di bidangnya dengan melibatkan komitmen pribadi yang mendalam.

Profesional : orang yang melakukan pekerjaan purna Waktu dan hidup dari pekerjaan itu dgn Mengandalkan keahlian yang tinggi serta punya komitmen pribadi yang mendalam terhadap pekerjaannya itu. Artinya meluangkan seluruh waktu, tenaga, pikiran bagi pekerjaannya itu, dan bangga akan pekerjaannya itu.

Jadi seorang yang professional, adalah orang yang memiliki komitmen tinggi dan melibatkan seluruh dirinya dengan giat, tekun, dan serius menjalankan pekerjaannya, dan pekerjaannya seolah telah menyatu dengan dirinya. Pekerjaan itu membentuk identitas dan kematangan dirinya, oleh karenanya berkembang seiring dgn perkembangan dan kemajuan pekerjaannya. Tidak lagi sekedar menjalankan hobi, mengisi waktu luang atau asal-asalan.

CIRI2 PROFESI
1. Adanya Pengetahuan Khusus, yang diperoleh berkat pendidikan, pelatihan, atau pengalaman bertahun-tahun.
2. Adanya Kaidah dan Standar Moral yang sangat tinggi, biasanya direpresentasikan dalam bentuk kode etik.yang harus dipatuhi dan ditaati oleh semua anggota profesi yang bersangkutan.
3. Pengabdian Kepada Kepentingan Masyarakat, Munculnya keunginan untuk mengabdikan jasa kepada masyarakat sebagai suatu pengabdian dan pelayanan tanpa ada pamrih apapun. NAmun banyak yang menyelewengkan dari konotasi yang luhur menjadi barang dagangan yang berkonotasi materialistis.
4. Biasanya ada izin khusus untuk bias menjalankan suatu profesi, yang memberi izin adl pemerintah selaku penjamin tertinggi dari kepentingan manyarakat.
5. Biasanya menjadi anggota suatu organisasi profesi,untuk menjaga keluhuran profesi tersebut.

PRINSIP-PRINSIP ETIKA PROFESI
-Tanggung Jawab, terhadap pekerjaan dan terhadap dampak dari pekerjaannya itu.
-Keadilan, menuntut untuk memberikan kepada siapa yang menjadi haknya.
-Otonomi, menuntut agar kaum professional diberi kebebasan dalam menjalankan profesinya, termasuk mewujudkan kode etik profesinya secara konkrit dan bebas campur tangan dari pihak lain..

MENUJU PROFESI YANG LUHUR
1. Pandangan Realistis Praktis
Pandangan ini bertumpu pada kenyataan yang berlaku dalam dunia bisnis dewasa ini, yaitu bisnis mrp kegiatan diantara manusia yg menyangkut kegiatan produksi, nebjual, dan memberi barang dan jasa untuk memperoleh keuntungan. Bisnis mrp suatu kegiatan profit-making

2. Pandangan Ideal
Menurut pandangan ini bisnis tak lain adalah suatu kegiatan yang pada dasarnya untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Untuk itu perlu ada pertukaran secara fair antara pihak-pihak yang terlibat. Maka yang diperjuangkan adalah suatu keadilan komutatif : keadilan tukar yang sebanding.

PRINSIP-PRINSIP ETIKA PROFESI
1. Prinsip Otonomi
Sikap dan kemampuan untuk bertindak berdasarkan kesadarannya sendiri tentang apa yang dianggap baik untuk dilakukan. Orang yang otonom adl orang yg mampu mengambil keputusan sendiri dan sadar itulkah yang terbaik dan bertanggung jawab atas sikap dan keputusannya itu, dan siap mengambil risiko atas tindakan dan keputusannya itu.

2. Prinsip Kejujuran
Dalam dunia bisnis, kejujuran menemukan wujudnya dalam berbagai aspek:
Dalam pemenuhan syarat-syarat perjanjian dan kontrak
Dalam penawaran barang dan jasa dengan mutu yang baik
Dalam hubungan kerja dengan pihak manapun
nyali yang sama dengan pribadi lainnya.

3. Prinsip Tidak Berbuat JAhat (non-maleficence) dan prinsip berbuat baik (beneficence)
Intinya prinsip moral sikap baik kepada orang lain. Perwujudannya dalam dua bentuk:
Menuntut agar secara aktif dan maksimal kita semua berbuat hal yang baik bagi orang lain
Dalam wujudnya, minimal pasif, sikap ini menuntut kita agar tidak berbuat jahat kepada orang lain. Jadi dalam situasi apapun kita akan melakuakan tindakan yang baik bagi orang lain, namun jika situasi tdk memungkinkan maka paling kurang jangan merugikan orang lain.

4. Prinsip Keadilan
Menuntut kita memperlakukan orang lain sesuai dengan haknya. Hak orang lain perlu dihargai dan jangan dilanggar, persis seperti kitapun mengharapkan agar kita dihargai dan tidak dilanggar.

5. Prinsip hormat pada diri sendiri
Kita semua mempunyai kewajiban moral yang sama bobotnya untuk menghargai diri kita sendiri., sebagai pribadi yang mempunyai nyali yang sama dengan pribadi lainnya.

===================================

TINJAUAN UMUM ETIKA
Pendahuluan
Manusia adalah
Makhluk Individu
Memiliki akal pikiran, perasaan, dan kehendak.
Makhluk Sosial
Memiliki perilaku etis
Pembahasan mengenai:
Pengertian etika
Hubungan etika dengan moral
Hubungan etika dengan filsafat / ilmu pengetahuan.
Faktor-faktor tindakan melanggar etika
Macam-macam etika
Pengertian Etika
Berasal dari Yunani -> “ethos” artinya karakter, watak kesusilaan atau adat.
Fungsi etika:
Sebagai subjek : Untuk menilai apakah tindakan-tindakan yang telah dikerjakan itu salah atau benar, buruk atau baik.
Sebagai Objek : cara melakukan sesuatu (moral).

Menurut Martin (1993), “etika adalah tingkah laku sebagai standart yang mengatur pergaulan manusia dalam kelompok sosial”.

Dalam Kaitannya dengan pergaulan manusia maka etika berupa bentuk aturan yang dibuat berdasarkan moral yang ada.
Tujuan Etika
Untuk mendapatkan konsep mengenai penilaian baik buruk manusia sesuai dengan norma-norma yang berlaku.
Pengertian baik:
Segala perbuatan yang baik.
Pengertian buruk:
segala perbuatan yang tercela.
Hubungan Etika dengan Moral
Moral berasal dari bahasa latin “mos” artinya adat istiadat.
Moral adalah nilai-nilai atau norma-norma yang menjadi pegangan seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya dalam bermasyarakat.
Sebagai contoh: “Kepala Proyek Pengembangan TI di perusahaan ini tidak bermoral…..” -> melangar norma-norma etis yang berlaku dalam kelompok atau organisasi.

Menurut Frans Magnis Suseno (1987), “moral adalah nilai-nilai yang mengandung peraturan, perintah dan lain sebagainya yang terbentuk secara turun temurun melalui suatu budaya tertentu tentang bagaimana manusia harus hidup dengan baik”.
Kesimpulan :
Hubungan Etika dengan Filsafat
Filsafat adalah bagian dari ilmu pengetahuan yang berfungsi sebagai interpretasi tentang hidup manusia.
Etika merupakan bagian dari filsafat, yaitu filsafat moral.
Filsafat moral adalah cabang dari filsafat tentang tindakan manusia.
Kesimpulan :
suatu ilmu yang mempelajari perbuatan baik dan buruk manusia berdasarkan kehendak dalam mengambil keputusan yang mendasari hubungan antar sesama manusia.
Faktor-Faktor Tindakan Melanggar Etika
Kebutuhan Individu
Merupakan faktor utama penyebab terjadinya tindakan tidak etis karena tidak tercukupinya kebutuhan pribadi dalam kehidupan.
Tidak ada pedoman
Tidak punya penuntun hidup sehingga tidak tahu bagaimana melakukan sesuatu.
Perilaku dan kebiasaan Individu
Perilaku kebiasaan individu tanpa memperhatikan faktor lingkungan dimana individu tersebut berada.
Macam-Macam Etika
Ada dua jenis yaitu:
Etika deskriptif
Etika yang berbicara tentang suatu fakta
Yaitu tentang nilai dan pola perilaku manusia terkait dengan situasi dan realitas yang membudaya dalam kehidupan masyarakat.
Etika yang menyoroti secara rasional dan kritis tentang apa yang diharapkan manusia mengenai sesuatu yang bernilai.
Etika normatif
Etika yang memberikan penilaian serta himbauan kepada manusia tentang bagaimana harus bertindak sesuai dengan norma yang berlaku.
Etika yang mengenai norma-norma yang menuntun tingkah laku manusia dalam kehidupan sehari-hari.

Perbedaan Etika deskriptif dan normatif adalah:

Etika deskriptif :
Memberikan fakta sebagai dasar untuk mengambil keputusan tentang perilaku yang dilakukan.
Etika normatif :
Memberikan penilaian sekaligus memberikan norma sebagai dasar dan kerangka tindakan yang akan diputuskan.
Macam-macam norma:
Norma sopan satun
Norma yang menyangkut tata cara hidup dalam pergaulan sehari-hari.
Norma Hukum
norma yang memiliki keberlakuan lebih tegas karena diatur oleh suatu hukum dengan jaminan hukuman bagi pelanggar.
Norma Moral
norma yang sering digunakan sebagai tolak ukur masyarakat untuk menentukan baik buruknya seorang sebagai manusia.
misalnya : menampilkan diri sebagai manusia dalam profesi yang dijalani.

==================================================

HUBUNGAN PIMPINAN DAN BAWAHAN

Hubungan yang harmonis antara bawahan dan atasan termasuk faktor yang sangat penting dalam kinerja organisasi secara keseluruhan.
Hubungan yang harmonis tersebut dapat tercipta apabila antara atasan dan bawahan saling memahami, menghargai dan menghormati.
Beberapa pedoman normatif mengenai sikap dan perilaku bawahan terhadap atasan :
Selalu menghormati dan menjunjung tinggi kekuasaan pimpinan selama kita bekerja dibawah pimpinannya.
Bersikap, bertutur kata dan berperilaku sopan kepada pimpinan, ‘tahu batas’ terhadap pimpinan (dalam suasana bergurau sekalipun), meski secara personal hubungan dengan pimpinan sudah dekat. Jangan bertindak seolah-olah setingkat kedudukannya dengan pimpinan.

Pemberian tugs-tugas baru atau bahkan lebih berat merupakan kepercayaan dari pimpinan, maka pandanglah sebagai bagian dari pengembangan diri untuk peningkatan karir.
Cepat tanggap atas kesibukan dan kesulitan yang dialami pimpinan. Bersikaplah sigap dan proaktif. Mengerjakan tugas akan terasa lebih ringan jika dilakukan atas kesadaran sendiri dibandingkan apabila kita diperintah.
Serahkan tugas-tugas yang telah kita selesaikan sebelum pimpinan memintanya. Jangan pernah menunda pekerjaan.

Kembangkan kemampuan kita secara terus menerus untuk melaksanakan tugas dalam upaya meringankan tugas-tugas pimpinan.
Hindari kebiasaan menimpakan kesalahan atau kekurangan kita kepada pimpinan.
Jaga rahasia pimpinan, baik rahasia jabatan maupun rahasia pribadi pimpinan.
Hindari kebiasan “menjilat” pada pimpinan dengan mengorbankan rekan kerja sendiri.

Jika tidak setuju dengan gagasan tau kebijakan pimpinan, lebih baik diungkapkan secara terbuka dengan tetap memperhatikan norma sopan santun.
Hindari sikap menggurui pimpinan, walaupun pada suatu bidang tertentu kita lebih tahu atau lebih menguasai dibandingkan dengan pimpinan.
Hindari perdebatan atau pertengkaran dengan pimpinan.
Kita tidak perlu turut campur terlalu jauh urusan pribadi atau keluarga pimpinan. Berikan pendapat kita secukupnya, jika pimpinan meminta pendapat dan saran kita mengenai masalah pribadinya.

Hindari sikap dan perilaku amoral/asusila dengan pimpinan.
Hindari kebiasaan memakai atau meminjam fasilitas atau barang-barang pribadi pimpinan (misalnya, alat kantor, mobil, sepeda motor, dll)
Hindari membuka surat-surat pribadi pimpinan yang lewat ke meja kerja kita.
Hindari memberikan nomor telepon pribadi pimpinan, baik nomor handphone maupun nomor telepon rumah tanpa sepengetahuan dan seizin pimpinan.

Sampaikan dengan segera kepada pimpinan jika ada pesan telepon dari orang lain, baik dari lingkungan internal maupun eksternal.
Berikan ucapan selamat dengan tulus dan proporsional atas keberhasilan atau prestasi pimpinan dan berikan ucapan prihatin atau bela sungkawa dengan tulus atas musibah atau peristiwa menyedihkan yang dialami pimpinan atau keluarganya.

=============================

ETIKA BEKERJA

ETiket menggunakan waktu kerja
Biasakan datang tepat waktu sesuai dengan jam kerja.
Jika ada kepentingan mendesak sehingga tidak dapat datang tepat waktu, informasikan.
Hindari kebiasaan bertandang ke unit kerja lain tanpa tujuan yang jelas.
Hindari kebiasaan mengurangi atau membuang jam kerja.

Biasakan bekerja tepat waktu
Bekerja sebatas/sesuai dengan bidang tugas, kewajiban dan wewenang kecuali ada intruksi khusus
Bekerja sesuai dengan standar kerja, prosedur, aturan, output yang telah ditetapkan
Kembangkan kreativitas terus menerus
Jaga antusiasme, semangat dan gairah kerja

Beberapa sikap atau perilaku yang dapat mengurangi jam kerja :
– Mengobrol/menggosip dengan rekan kerja
– Merokok di luar jam istirahat
– Mangkir kerja
– Bolos kerja
– Mengerjakan pekerjaan yang bersifat pribadi
– Sering menerima tamu pribadi selama jam kerja
– Sering bertelepon/menerima telepon pribadi dengan fasilitas kantor
– Membaca koran, majalah atau bacaan yang tidak ada kaitannya dengan tugas

Beberapa sikap atau perilaku yang dapat mengurangi jam kerja :
– Mengobrol/menggosip dengan rekan kerja
– Merokok di luar jam istirahat
– Mangkir kerja – Bolos kerja
– Mengerjakan pekerjaan yang bersifat pribadi
– Sering menerima tamu pribadi selama jam kerja
– Sering bertelepon/menerima telepon pribadi dengan fasilitas kantor
– Membaca koran, majalah atau bacaan yang tidak ada kaitannya dengan tugas

Berbisnis di kantor
Mengurusi urusan keluarga
Mabuk-mabukan, berjudi dan perilaku Lainnya
Mengulur waktu istirahat
Menggunakan waktu libur melampaui ketentuan
Menggunakan fasilitas cuti melampaui
batas yang ditetapkan
* Persiapkan daftar prestasi yang Anda capai,yang melampaui job description Anda
* Jangan mengatakan Anda perlu lebih banyak uang. Atasan tak akan mau mempertimbangkan masalah beban keuangan Anda
* Dapatkan gambaran atau prosentase kenaikan gaji didalam pikiran Anda
* Jangan menyinggung gaji rekan sekerja. Seringkali gaji merupakan hasil pembicaraan pribadi sehingga tak bisa dijadikan sebagai bahan pertimbangan
* Antisipasi pertanyaan tentang bagaimana Anda telah mengasah keterampilan Anda
* Jangan berkecil hati jika atasan menolak permintaan Anda

-> Surat pengunduran diri berisi informasi: nama, orang yang dituju (atasan atau HRD), nama pemohon, jabatan, tanggal surat, pemberitahuan tentang kapan hari terakhir bekerja, ucapan terima kasih, tanda tangan.

->Tidak memberikan komentar-komentar pribadi.

-> Perhatikan tenggat waktu pengunduran diri sejak surat dibuat sesuai dengan peraturan perusahaan tempat kita bekerja.

Komentar
  1. Jakobus Kaditti Bangun mengatakan:

    Llebih meyakinkan lagi lagi, apa bila konsep-konsep utama yang dikemukakan disajikan juga referensinya. Trims

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s